Dua Wakil Perikanan di Anugerah Inovasi Daerah Provinsi Lampung 2017

Lomba tahunan Anugerah Inovasi Daerah Provinsi Lampung ini  diselenggarkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Provinsi Lampung bekerja sama dengan Universitas Bandar Lampung (UBL), Ikatan Alumni ITB dan Forum CSR Lampung tahun 2017 ini babak final diselenggarakan di Aula Gedung Program Pascasarjana UBL pada rabu, 12 Juli 2017 pukul 08.00-16.30. 

Jurusan Perikanan dan Kelautan Unila  tahun ini diwakili oleh 2 tim yang terdiri dari satu tim dosen dan satu tim mahasiswa. kedua tim tersebut adalah:

  1. Yudha Trinoegraha Adiputra, M.Si. (Dosen Jurusan Perikanan dan Kelautan) dengan peneltian berjudul: Pembesaran Lobster Pasir (Panulirus homarus) dengan Induksi Hormon Tiroksin.
  2. Suryo Kunindar, Ribut Eko Wahyono dan Ricky Nur Iskandar (Mahasiswa Jurusan Perikanan dan Kelautan dan Jurusan TEP) dengan penelitian berjudul Penerapan Teknologi Bioflok dengan Variasi Rasio C/N dan Alat Pemberi Pakan Otomatis Berbasis Mikrokontroler pada Budidaya Ikan Lele (Clarias) Sistem Intensif.

Dalam babak final tersebut dilakukan presentasi dan tanya jawab, setelah dalam babak selanjutnya dilakukan presentasi dan kunjungan lapangan. Presensentasi dan tanya jawab pada babak final tersebut dilakukan selama 20 menit. Kedua wakil dari perikanan tersebut membawa inovasi yang berbeda, Suryo Kunindar dkk. membuat inovasi  mesin pakan otomatis yang dikombinasikan dengan alat monitoring kualitas air secara otomatis. Mesin pakan yang dibuat bebasiskan input biomassa hewan kultur yang waktu pemebrian pakannya dikontrol dengan mikrokontroler dan basis perhitungan Feed Convertion Rate (FCR) menggunakan jaringan saraf tiruan. Mesin pakan tersebut di terapkan pada budidaya dengan teknologi bioflok.

Sementara, Yudha T. Adiputra lebih menenkankan pada upaya yang nantinya dapat diterapkan untuk konservasi mengingat ancaman terhadap lobster semakin besar, selain itu juga sebagai upaya antisipasi dari peraturan menteri Kelautan dan Perikanan tentang pelarangan ekspor benih lobster. Dari inovasi yang dilakukan adalah upaya untuk dapat mendomestikasi lobster yang nantinya dapat dibudidayakan dengan modifikasi tempat dan pakan yang diberikan. Optimalisasi pertumbuhan pada tahap ini juga dapat dilakukan setelah diketahui dosis hormon tiroksin sebagai hormon pertumbuhan telah dapat ditemukan. Kinerja hormon ini akan efektif untuk mempercepat pertumbuhan, menghemat paan, mempertahankan sintasan yang tinggi dan meningkatkan frekuensi moulting (ganti kulit).

Penentuan juara kegiatan lomba inovasi daerah ini akan diumumkan sebulan kemudian. Semoga tahun depan sivitas akademika Jurusan Perikanan dan Kelautan dapat lebih banyak yang berpartisipasi sehingga dapat meningkakan mutu akademik dan membantu masalah-masalah perikanan budidaya di Provinsi Lampung.