Seminar Nasional dan Penukuhan Pengurus Masyarakat Akuakultur Indonesia Korda Lampung

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Prof Rokhmin Dahuri mengatakan, salah satu keunggulan komparatif Indonesia pada jenis usaha akuakultur yakni budi daya perikanan. Namun, ironisnya pemanfaatan budidaya akuakultur yang potensinya sangat besar di Nusantara ini, hanya mampu tergarap sekitar 20 persen, selebihnya masih tertidur.

“Nilai ekonominya sekitar 200 miliar dolar AS, artinya itu besar sekali Rp 1.700 triliun. Padahal, APBN kita Rp 2.400 triliun apalagi dilihat dari potensi tenaga kerja. Persoalannya, sampai saat ini kita belum bisa menggunakan secara optimal, secara garis besar baru sekitar 20 persen,” kata Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) Prof Rokhmin Dahuri seusai pelantikan pengurus MAI Korda Lampung dan Seminar Nasional Akuakultur di Universitas Lampung.

Lebih lanjut dalam pemaparan yang mengambil tema KEBIJAKAN AKUAKULTUR DI PROPINSI LAMPUNG, Dr Toga Mahaji, M.Si juga menyampaikan beberapa hal terkait visi dan misi pembangunan perikanan di Propinsi Lampung. Permasalahan yang dihadapi dalam pembangunan perikanan di Propinsi Lampung adalah :

  1. Belum optimalnya pemanfaatan sumberdaya perikanan budidaya : (a) Masih banyaknya lahan tidur (idle), (b) Terjadinya ketidakseimbangan pemanfaatan lahan budidaya dengan pelestarian lingkungan ( kerusakan mangrove)
  2. Penyakit dan degradasi lingkungan
  3. Keberpihakan perbankan dan lembaga keuangan lainnya terhadap usaha perikanan masih sangat kecil
  4. Penerapan Cara Pembenihan dan Budidaya Ikan yang Baik belum sepenuhnya
  5. Infrastruktur masih kurang (saluran, listrik, jalan produksi)
  6. Kelembagaan masih lemah
  7. Masih lemahnya market intelegent
  8. Data dan jejaring informasi masih lemah
  9. Penerapan mutu dalam penanganan pasca panen masih lemah
  10. Ketersediaan induk unggul dan benih yang masih kurang
  11. Pakan yang dirasakan masih mahal
  12. Kompetensi SDM yang masih kurang

Kepengurusan MAI Korda Lampung terbentuk pada tanggal 2 November 2017 di Universitas Lampung yang berasal dari stakeholder dalam bidang akuakultur di Lampung baik dari akademisi (dosen dan Guru), praktisi (petambak udang, pembudidaya ikan, industri pakan dan obat-obatan, serta Saprotam), dan birokrat.  MAI korda Lampung memiliki garis koordinasi dengan MAI pusat dalam melaksanakan kegiatan-kegiatannya.

Dalam acara pengukuhan pengurus MAI Korda Lampung, Sekretaris Jedral MAI Pust, Dr. Ir. Agung Sudaryono mengatakan bahwa,  Masyrakat Akuakultur Indonesia merupakan organisasi profesi  nirlaba yang bergerak dalam bidang akuakultur, beranggotakan para akademisi, praktisi,  dan birokrat (pemerintahan). Masyarakat akuakultur Indonesia dideklarasikan pertama kali pada tanggal 30 Oktober 2001 di Universitas Diponegoro, Semarang.   MAI merupakan organisasi nonprofit dengan ruang lingkup nasional yang bersifat independen, dinamis, berdaulat, mandiri serta mempunyai komitmen yang tinggi terhadap kemajuan industri akuakultur melalui berbagai aktifitas pendidikan, pelatihan, riset, seminar, lokakarya, temu bisnis, pendampingan dan advokasi.