Kurikulum

Tujuan dan arah pendidikan Tinggi di Indonesia seperti yang tertuang pada Bab II pasal 2 Keputusan Menteri Pendidikan No.232/U/2000 adalah menyiapkan peserta didik untuk menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dalam menerapkan, mengembangkan, dan/atau memperkaya kasanah ilmu pengetahuan, teknologi dan atau kesenian, serta menyebarluaskan dan mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan dan memperkaya kebudayaan nasional. Ini berarti kinerja akademik dituntut dilaksanakan secara kompetitif dengan kualitas unggul. Kinerja akademik yang tidak berorientasi pada kualitas unggul, tidak saja akan tertinggal dalam persaingan tetapi juga akan bergantung pada dunia luar yang lebih maju.

Perkembangan masyarakat yang semakin komplek menuntut Perguruan tinggi memiliki dan mengembangkan budaya akademik yang dapat membentuk mahasiswa agar memiliki jatidiri dan kompetensi dibidangnya. Dengan demikian budaya akademik berarti apa yang dipelajari oleh mahasiswa selama periode waktu tertentu dari Universitas, Fakultas atau Jurusannya. Pengembangan budaya akademik ini didasarkan atas dua tantangan yang selalu dihadapi oleh pendidikan tinggi dalam penyelenggaraan pendidikannya yaitu tantangan yang bersifat internal dan eksternal.

Tantangan faktor internal menunjuk pada adanya perubahan sumberdaya manusia hasil didikan Perguruan Tinggi yang semata-mata tidak hanya berdasarkan pada persyaratan penguasaan ilmu dan ketrampilan, tetapi juga pada persyaratan sikap dan semangat belajar, pengenalan bidang lapangan pekerjaan dan kepercayaan masyarakat terhadap pendidikannya serta adanya semangat otonomi sesuai dengan UU No.32 tahun 2004. Sedangkan tantangan yang bersifat eksternal menunjuk pada adanya persaingan tenaga kerja yang menglobal, tuntutan pendidikan tinggi yang humanis, internasionalisasi pendidikan yang bersifat lintas negara yang dalam era globalisasi disebut dengan istilah ‘etnoscapes’.

Guna mencapai tujuan pendidikan, salah satu fator penting dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi harus didukung oleh sistem organisasi pendidikan yang baik, sarana dan prasarana yang memadai (kualiatas SDM/Staf Pengajar dan fasilitas yang dibutuhkan untuk mendukung proses belajar dan mengajar), juga dipengaruhi oleh fator kurikulum yang tepat.

Kompetensi Lulusan

  1. Kemampuan merencanakan dan menerapkan program pembangunan perikanan.
  2. Kemampuan merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi dan mengembangkan sistem produksi.
  3. Kemampuan menganalisis kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan potensi perikanan.
  4. Keberanian memulai, merencanakan, melaksanakan dan mengembangkan usaha inovatif bidang perikanan budidaya yang berkelanjutan.
  5. Kreatif dan inovatif dalam menerapkan ipteks dibidang perikanan budidaya dalam praktek bisnis.
  6. Kemampuan mengidentifikasi dan merumuskan masalah perikanan budidaya yang berkelanjutan secara tepat.
  7. Kemampuan merancang dan melaksanakan penelitian serta menginterpretasikan data secara profesional.
  8. Kemampuan menyimpulkan dan merekomendasikan penyelesaian masalah secara tepat dalam sistem perikanan budidaya yang berkelanjutan.

Kompetensi Pendukung

  1. Kemampuan berkomunikasi dan menjalin kerjasama secara efektif dalam tim multidisiplin.
  2. Kemampuan menerapkan etika bisnis perikanan yang berwawasan lingkungan.
  3. Jujur dan memiliki etika ilmiah.

Kompetensi Pilihan

  1. Memiliki kepekaan dan tanggung jawab untuk menyebarluaskan pengetahuan tentang akuakultur.
  2. Memiliki pengetahuan manajemen akuakultur yang baik.
  3. Memiliki leadership.
  4. Mampu menerapkan prinsip-prinsip akuakultur.
  5. Memiliki jiwa teknopreneurship.
  6. Mampu mengidentifikasi, menganalisis dan merumuskan penyelesaian masalah di bidang akuakultur.
  7. Menguasai berbagai metode akuakultur

Sebaran Mata Kuliah

 

Deskripsi Mata Kuliah